Pasangan
Nengah Mudana-Putu Martini sedang berada di
puncak bahagia. Anak mereka lanang satu-satunya
merayakan tiga otonan. Dadong, kumpi, misan,
keponakan, dan kerabat, merayakannya dengan
doa, sesajen, dan babi guling. Suasana temu
keluarga itu ceria dan meriah.
Tapi diam-diam Mudana dan Martini sebenarnya memendam kecewa.
Sang anak yang sehat montok itu tak jua bisa
mengucapkan Papa atau Mama. Berkali-kali Nengah
mengajarkan si anak ngomong, si balita tetap
bengong. Paling telunjuknya menuding-nuding
sambil berteriak atau melenguh, “Oooehh......
oooehh.... oooehh....!” Kadang cuma bunyi “Aohhh...
aohhhh....” meluncur dari mulutnya. Apalagi
ketika beberapa orang yang mengajak rare (balita)
itu bercanda berkomentar, “Sudah hampir dua
tahun kok belum juga bisa ngomong?” Martini
dan Mudana kian kecewa.
Nengah
mulai sangat khawatir. “Jangan-jangan anak kita
kolok, Tu,” katanya pada istrinya.
Mereka kemudian membawa rare itu
ke dokter. “Ah, ini hal biasa. Tak usah cemas,”
ujar dokter sambil memberi vitamin.
“Umur anak saya sudah dua puluh
bulan, Dok. Anak-anak sebaya dia sudah bisa
bilang Mama-Papa.”
“Tiap anak punya perkembangan berbeda,” sahut dokter menenangkan.
Nengah tak puas. “Kita harus cari
jalan lain agar anak kita cepat bisa ngomong,”
ujar Nengah pada istrinya. Mereka mendatangi
beberapa dukun, minta loloh (jamu). Hasilnya?
Tak ada. Mereka juga rajin ngaturang bakti ke
tempat-tempat suci dan angker. Hasilnya, tetap
saja nihil.
Putu Martini
kemudian menganjurkan agar suaminya meminta
air cucian tangan pendeta sehabis makan. “Air
basuhan itu kita minumkan ke anak kita,” ujar
Martini. “Kawanku pernah mencobanya, hasilnya
manjur.”
Nengah mengikuti anjuran Martini. Ia ingin melakukan apa saja
agar balitanya bisa segera ngomong. Ketika air
cucian tangan itu diberikan pada sang anak,
tentu ia menangis gerong-gerong menahan rasa
pedas, manis, asin, dan entah rasa aneh apa
lagi. Tapi Martini memaksakannya. Mereka kemudian
mencampur air basuhan tangan itu dengan susu
dan madu.
Memasuki umur 24 bulan, rare mereka
mulai bisa memanggil Papa dan Mama. Tapi dokter
tak percaya penyebabnya adalah air cucian tangan
sang pendeta. “Anak Ibu normal, ya sekarang
memang saatnya ia bisa ngomong,” kata sang dokter
enteng.
Namun Nengah Mudana dan Putu Martini sangat yakin, air basuhan
tangan pendeta suci itu sangat manjur, sehingga
puteranya tidak tumbuh sebagai anak kolok (bisu).