Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
 

Wednesday, 10-Jul-2002

Pasang Iklan Peluang Emas
~ Agar Rare Bisa Ngomong  ~
MENU OGLEX
Who am I
  Klik disini
   
Ketawa Ngakak
Cerita Lucu
  SMS Lucu
Kartun Biasa
Kartun Dewasa
  Teka - Teki
   
About "Love"
  Cerita Cinta
  Puisi Cinta
  Kisah Cinta
   
Oglex Special
  Ring Tone
  Screen Saver
  Midi
Desktop
 
 
Kritik dan Saran

 

Pasangan Nengah Mudana-Putu Martini sedang berada di puncak bahagia. Anak mereka lanang satu-satunya  merayakan tiga otonan. Dadong, kumpi, misan, keponakan, dan kerabat, merayakannya dengan doa, sesajen, dan babi guling. Suasana temu keluarga itu ceria dan meriah. 
Tapi diam-diam Mudana dan Martini sebenarnya memendam kecewa. Sang anak yang sehat montok itu tak jua bisa mengucapkan Papa atau Mama. Berkali-kali Nengah mengajarkan si anak ngomong, si balita tetap bengong. Paling telunjuknya menuding-nuding sambil berteriak atau melenguh, “Oooehh...... oooehh.... oooehh....!” Kadang cuma bunyi “Aohhh... aohhhh....” meluncur dari mulutnya. Apalagi ketika beberapa orang yang mengajak rare (balita) itu bercanda berkomentar, “Sudah hampir dua tahun kok belum juga bisa ngomong?” Martini dan Mudana kian kecewa. 
Nengah mulai sangat khawatir. “Jangan-jangan anak kita kolok, Tu,” katanya pada istrinya.  
Mereka kemudian membawa rare itu ke dokter. “Ah, ini hal biasa. Tak usah cemas,” ujar dokter sambil memberi vitamin. 
“Umur anak saya sudah dua puluh bulan, Dok. Anak-anak sebaya dia sudah bisa bilang Mama-Papa.” 
“Tiap anak punya perkembangan berbeda,” sahut dokter menenangkan. 
Nengah tak puas. “Kita harus cari jalan lain agar anak kita cepat bisa ngomong,” ujar Nengah pada istrinya. Mereka mendatangi beberapa dukun, minta loloh (jamu). Hasilnya? Tak ada. Mereka juga rajin ngaturang bakti ke tempat-tempat suci dan angker. Hasilnya, tetap saja nihil. 
kone2Putu Martini kemudian menganjurkan agar suaminya meminta air cucian tangan pendeta sehabis makan. “Air basuhan itu kita minumkan ke anak kita,” ujar Martini. “Kawanku pernah mencobanya, hasilnya manjur.” 
Nengah mengikuti anjuran Martini. Ia ingin melakukan apa saja agar balitanya bisa segera ngomong. Ketika air cucian tangan itu diberikan pada sang anak, tentu ia menangis gerong-gerong menahan rasa pedas, manis, asin, dan entah rasa aneh apa lagi. Tapi Martini memaksakannya. Mereka kemudian mencampur air basuhan tangan itu dengan susu dan madu. 
Memasuki umur 24 bulan, rare mereka mulai bisa memanggil Papa dan Mama. Tapi dokter tak percaya penyebabnya adalah air cucian tangan sang pendeta. “Anak Ibu normal, ya sekarang memang saatnya ia bisa ngomong,” kata sang dokter enteng. 
Namun Nengah Mudana dan Putu Martini sangat yakin, air basuhan tangan pendeta suci itu sangat manjur, sehingga puteranya tidak tumbuh sebagai anak kolok (bisu). 

 

 

 

 

 

 

Previous
 

 

 

 
© Cophyright Oglex Post 2002
Denpasar - Bali