Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
 

Wednesday, 10-Jul-2002

Pasang Iklan Peluang Emas
~ Bahu Sakit? Gosokkan  ke Lumbung ~
MENU OGLEX
Who am I
  Klik disini
   
Ketawa Ngakak
Cerita Lucu
  SMS Lucu
Kartun Biasa
Kartun Dewasa
  Teka - Teki
   
About "Love"
  Cerita Cinta
  Puisi Cinta
  Kisah Cinta
   
Oglex Special
  Ring Tone
  Screen Saver
  Midi
Desktop
 
 
Kritik dan Saran

Ketika rekan-rekannya sibuk mengangkut hasil panen, Wayan Tinggar diam termangu menonton. Ia hanya duduk di pematang memandang orang-orang mengangkat padi ke pikulan. Ia ingin ikut ambil bagian, tapi tengkuk dan bahunya terasa nyeri begitu ia mulai menggerakkan leher. Untuk menoleh pun, memutar kepala, ia tak sanggup. Otot-otot di pundak kiri pegal kaku. Kalau ada yang memanggil, Tinggar tak kuasa menoleh, ia harus memutar badan untuk berhadapan dengan orang yang memanggilnya. Ketut Kledit, karib Tinggar yang biasanya menggali padas di tebing barat desa, menghampirinya.
"Kok bengong sendiri? Tak ikut mengangkut hasil panen?"
Tinggar menggeleng. "Ini, bahuku sakit sekali," ujarnya memegang bahu dan tengkuknya yang kiri. "Wah, pasti kamu pegal mengangkut panen yang banyak ya?"
"Tidak juga. Kemarin bahuku biasa-biasa saja, masih bisa memikul padi dan rumput. Tapi bangun tadi pagi tiba-tiba sakit bukan main. Aku bahkan tak bisa menoleh. Tengkuk rasanya nyeri.
"Wah, kalau begitu kamu pasti salah tidur. Diurut saja."
"Diurut bagaimana? Dipegang saja sakit kok." inggar mengaku, siang ini ia akan ke puskesmas.

 

 

 

"Kata istriku, di puskesmas aku akan disuntik dengan obat penghilang rasa sakit. Lalu ditambah obat manjur biar ototku lemas tanpa mesti diurut," ujar Tinggar.
"Ke puskesmas? Tak usah. Aku punya obat mujarab."

"Apa pula itu?" tanya Tinggar penuh harap.
"Kau boleh percaya atau tidak, tapi aku sudah mencobanya. Dan manjur."
"Beri aku kalau begitu. Apa itu? Pil, jamu, atau loloh?"
"Bukan. Di rumahmu masih ada lumbung kan? Nah, gosokkan berkali-kali bahumu yang sakit itu ke bale lumbung, pasti sembuh."
"Ah, mana bisa. Pasti tambah sakit!"
"Aku pernah mencobanya, sembuh. Kalau ak percaya ya sudah. Tapi, apa salahnya kau coba."
Tinggar lalu menyodok-nyodokkan bahunya di bale lumbung. Sakit, tapi ditahan-tahan. Yang ia rasa justru perih menyengat. Ketika ia raba bahunya, wah, berdarah. Sebitan kecil seperti tusuk gigi menancap di bahunya. Tak begitu dalam, tapi sakitnya bukan main.
Istrinya datang ketika Tinggar berkali-kali mengaduh. "Kubilang apa, ke puskesmas saja. Kok tahyul si Kledit kamu percaya. Kamu sendiri pernah bilang, Si Kledit itu tukang bual, pembohong besar, suka mempermainkan orang. Kok sekarang justru kamu yang percaya?"
Tinggar cuma diam. Bahunya panas dan perih. Ia meringis menahan sakit.

Previous

 

 

 

 
© Cophyright Oglex Post 2002
Denpasar - Bali