Lepas
sekolah dasar, Made Sugendra dibelikan sepeda
baru oleh Ayah. “Coba kamu ranking satu, Bapak
belikan motor, he... he... he....”. kata Ayah.
Tapi dibelikan sepeda saja Made girang bukan alang kepalang.
Sampai larut malam ditatapnya terus sepeda itu.
Dielusnya, dinaikinya berkali-kali. Dibawanya
sepeda itu ke kamar tidur, seperti mengajak
kawan sepermainan.Bangun pagi, masih dinihari,
ia langsung naik sepeda. Ia kayuh sepeda itu
ke rumah tetangga, berkabar pada kawan, kalau
sekarang ia sudah punya sepeda baru. Apalagi
sekarang masih libur, Made Sugendra tak henti-henti
bersepeda. Tak ada jam tanpa bersepeda. Kadang
ia bertanya pada Ibu, apa tak perlu ke warung
beli garam atau bawang, Made siap pergi belanja.
Melihat Made terus menerus bersepeda, Ayah kesal juga. Pagi,
siang, petang, malam, Made terus bersepeda.
Ayah bahkan mulai was-was, suatu kali nanti
Sugendra akan celaka, karena capek terus bersepeda.
“Istirahatlah dulu, kok terus naik sepeda,” saran Ayah. Tapi
Made tak peduli, ia tetap saja menggenjot sepeda.
Hari
men jelang petang, Made buru-buru mandi, makan,
dan menuntun sepeda ke luar. Ayah mencegahnya,
“Tak baik ke luar sandikala,” nasehat Ayah.
“Tunggu sebentar lagi, sampai benar-benar malam.”
“Memangnya
kenapa?”
“Kakek nenek, dan buyutmu dulu bilang, berbahaya kalau bepergian
sandikala. Banyak roh jahat dan hantu gentayangan.
Kamu bisa dicaplok.Sandikala itu milik Batara
Kala dan ancangan (anak buah)-nya. Tugas mereka
mencaplok anak-anak nakal dan bandel.”
“Alaahhh...... itu kuno. Mereka hanya mencaplok orang berdosa.
Masak orang naik sepeda itu dosa,” sahut Made
sembari naik sepeda dan mengayuh kencang di
jalan desa.
Baru beberapa
puluh meter melaju, ratusan serangga malam dan
undur-undur menubruknya. Seekor menelusup ke
mata. Perih sekali. Made mengucek-ucek matanya
dengan tangan kanan. Masih perih. Ia mengucek
dengan kedua tangan. Sepeda tak lagi terkendali,
menghantam pohon bunut di tepi jalan, sebelum
nyemplung ke parit. Made terpelanting. Ia tak
merasakan sakit di bahunya yang menabrak bunut,
kalah oleh perih di mata.
Ia menjerit-jerit berlari pulang.
Sepeda ia biarkan tergeletak. Ayah kaget, meniup-niup
mata Made yang kemasukan undur-undur, lalu membasuhnya.
“Bapak
bilang apa, jangan ke jalan kalau sandikala.
Ini akibatnya, ancangan Batara Kala menghukum
kamu!”
“Tapi saya kan bukan anak berdosa
Pak?” Made terisak, membayangkan sepedanya yang
penyok masuk got. Air mata sedih dan air mata
perih karena ditabrak undur-undur, campur baur
jadi satu.