Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
 

Wednesday, 10-Jul-2002

Pasang Iklan Peluang Emas
~ Undur-undur, Pasukan Sandikala  ~
MENU OGLEX
Who am I
  Klik disini
   
Ketawa Ngakak
Cerita Lucu
  SMS Lucu
Kartun Biasa
Kartun Dewasa
  Teka - Teki
   
About "Love"
  Cerita Cinta
  Puisi Cinta
  Kisah Cinta
   
Oglex Special
  Ring Tone
  Screen Saver
  Midi
Desktop
 
 
Kritik dan Saran

Lepas sekolah dasar, Made Sugendra dibelikan sepeda baru oleh Ayah. “Coba kamu ranking satu, Bapak belikan motor, he... he... he....”. kata Ayah. 
Tapi dibelikan sepeda saja Made girang bukan alang kepalang. Sampai larut malam ditatapnya terus sepeda itu. Dielusnya, dinaikinya berkali-kali. Dibawanya sepeda itu ke kamar tidur, seperti mengajak kawan sepermainan.Bangun pagi, masih dinihari, ia langsung naik sepeda. Ia kayuh sepeda itu ke rumah tetangga, berkabar pada kawan, kalau sekarang ia sudah punya sepeda baru. Apalagi sekarang masih libur, Made Sugendra tak henti-henti bersepeda. Tak ada jam tanpa bersepeda. Kadang ia bertanya pada Ibu, apa tak perlu ke warung beli garam atau bawang, Made siap pergi belanja.  Melihat Made terus menerus bersepeda, Ayah kesal juga. Pagi, siang, petang, malam, Made terus bersepeda. Ayah bahkan mulai was-was, suatu kali nanti Sugendra akan celaka, karena capek terus bersepeda. 
“Istirahatlah dulu, kok terus naik sepeda,” saran Ayah. Tapi Made tak peduli, ia tetap saja menggenjot sepeda.
Hari men jelang petang, Made buru-buru mandi, makan, dan menuntun sepeda ke luar. Ayah mencegahnya, “Tak baik ke luar sandikala,” nasehat Ayah. “Tunggu sebentar lagi, sampai benar-benar malam.” 
“Memangnya kenapa?” 
“Kakek nenek, dan buyutmu dulu bilang, berbahaya kalau bepergian sandikala. Banyak roh jahat dan hantu gentayangan. Kamu bisa dicaplok.Sandikala itu milik Batara Kala dan ancangan (anak buah)-nya. Tugas mereka mencaplok anak-anak nakal dan bandel.” 
“Alaahhh...... itu kuno. Mereka hanya mencaplok orang berdosa. Masak orang naik sepeda itu dosa,” sahut Made sembari naik sepeda dan mengayuh kencang di jalan desa. 
kone2Baru beberapa puluh meter melaju, ratusan serangga malam dan undur-undur menubruknya. Seekor menelusup ke mata. Perih sekali. Made mengucek-ucek matanya dengan tangan kanan. Masih perih. Ia mengucek dengan kedua tangan. Sepeda tak lagi terkendali, menghantam pohon bunut di tepi jalan, sebelum nyemplung ke parit. Made terpelanting. Ia tak merasakan sakit di bahunya yang menabrak bunut, kalah oleh perih di mata.  Ia menjerit-jerit berlari pulang. Sepeda ia biarkan tergeletak. Ayah kaget, meniup-niup mata Made yang kemasukan undur-undur, lalu membasuhnya. 
“Bapak bilang apa, jangan ke jalan kalau sandikala. Ini akibatnya, ancangan Batara Kala menghukum kamu!” 
“Tapi saya kan bukan anak berdosa Pak?” Made terisak, membayangkan sepedanya yang penyok masuk got. Air mata sedih dan air mata perih karena ditabrak undur-undur, campur baur jadi satu.


 

 

 

Previous
Next

 

 

 

 

 
© Cophyright Oglex Post 2002
Denpasar - Bali