Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
 

Wednesday, 10-Jul-2002

Pasang Iklan Peluang Emas
~ Agar tak Seperti Tapel Bondres ~
MENU OGLEX
Who am I
  Klik disini
   
Ketawa Ngakak
Cerita Lucu
  SMS Lucu
Kartun Biasa
Kartun Dewasa
  Teka - Teki
   
About "Love"
  Cerita Cinta
  Puisi Cinta
  Kisah Cinta
   
Oglex Special
  Ring Tone
  Screen Saver
  Midi
Desktop
 
 
Kritik dan Saran

 

Wayan Dwija,  anak lanang kelas satu sekolah dasar itu, punya pengalaman pertama Sangat menegangkan. Ketika asyik main kelerang bersama kawan-kawan, ia merasa ada sesuatu yang ganjil di mulutnya. Ia  raba gusinya, terasa kesemutan. Dipegangnya gigi seri bagian bawah, ada rasa nyeri mendesak. Digoyang-goyangnya gigi itu, astaga, ada yang tak beres.
Ia berlari pulang, tak peduli teriakan kawan-kawan yang mengingatkan kelerengnya tertinggal. Siang itu ia mendapatkan ibunya duduk majejahitan di bale dangin, presiapan untuk hari Saraswati besok.
Dwija merengek pada ibunya, “Me.... Me.... sakit....!” ujarnya sambil memegang gigi seri bawah yang bergoyang-goyang. Si ibu memegang gigi itu. “Wah, gigimu ocel, harus dicabut!”
sketsa, gun-gunMendengar gigi harus dicabut, Dwija gemetar, langsung memeluk ibu. Ia takut setengah mati membayangkan giginya copot. Ia pernah melihat seorang kawan sepermainannya cabut gigi dengan gusi berdarah-darah.
Si ibu mengambil seutas benang, Dwija melangkah mundur. “Jangan...! Jangan.....! Nggak mau...!” teriaknya sengit. Wajahnya pucat pasi.
“Kalau tak mau dicabut, nanti sakit terus!” bujuk sang ibu.
Dwija menangis, pasrah. Si ibu mengikatkan benang itu ke gigi Dwija yang ocel. Sekali sentak, ibu menarik ke atas benang itu. Tasss.... gigi ocel itu pun copot. 
“Nah, tak sakit kan? Cuma seperti digigit semut kok!” hibur sang ibu. Dwija diberi segelas air untuk berkumur. Ketika direguk, ia gemetar melihat air di gelas merah oleh darah. Kawan-kawan Dwija datang ramai-ramai. Mereka mengambil gigi Dwija yang copot, masih terikat benang yang dibuang ibu begitu saja di bawah pohon belimbing di halaman.
“Mau kau apakan gigiku itu?” taya Dwija heran.
“Ini gigimu yang bawah ya?” Dwija mengangguk. “Harus dibuang ke atas atap, biar gigi penggantinya nanti tumbuh bagus.”
Anak itu melempar gigi yang masih terikat benang ke atas. Mereka bersorak ketika terdengar bunyi “tap” di atas atap. Gigi itu diam di sana. Kawan-kawan memeluk Dwija. “Nah gigimu pasti tumbuh bagus nanti. Kalau gigi yang di atas dicabut, harus dibuang ke tanah, jangan dilempar ke atas,” jelas rekan Dwija.
“Kok begitu?”
“Nak mule keto. Biar gigimu nanti tumbuh rapi, tidak kacau terbalik-balik seperti gigi tapel bondres,” sahut anak tertua di kelompok itu.

 

 

 

 

 

 

Previous
 

 

 

 
© Cophyright Oglex Post 2002
Denpasar - Bali