Wayan
Dwija, anak lanang kelas satu sekolah
dasar itu, punya pengalaman pertama Sangat menegangkan.
Ketika asyik main kelerang bersama kawan-kawan,
ia merasa ada sesuatu yang ganjil di mulutnya.
Ia raba gusinya, terasa kesemutan. Dipegangnya
gigi seri bagian bawah, ada rasa nyeri mendesak.
Digoyang-goyangnya gigi itu, astaga, ada yang
tak beres.
Ia berlari pulang, tak peduli teriakan
kawan-kawan yang mengingatkan kelerengnya tertinggal.
Siang itu ia mendapatkan ibunya duduk majejahitan
di bale dangin, presiapan untuk hari Saraswati
besok.
Dwija merengek pada ibunya, “Me....
Me.... sakit....!” ujarnya sambil memegang gigi
seri bawah yang bergoyang-goyang. Si ibu memegang
gigi itu. “Wah, gigimu ocel, harus dicabut!”
Mendengar
gigi harus dicabut, Dwija gemetar, langsung
memeluk ibu. Ia takut setengah mati membayangkan
giginya copot. Ia pernah melihat seorang kawan
sepermainannya cabut gigi dengan gusi berdarah-darah.
Si ibu mengambil seutas benang, Dwija melangkah mundur. “Jangan...!
Jangan.....! Nggak mau...!” teriaknya sengit.
Wajahnya pucat pasi.
“Kalau tak mau dicabut, nanti sakit terus!” bujuk sang ibu.
Dwija menangis, pasrah. Si ibu mengikatkan benang itu ke gigi
Dwija yang ocel. Sekali sentak, ibu menarik
ke atas benang itu. Tasss.... gigi ocel itu
pun copot.
“Nah, tak sakit kan? Cuma seperti
digigit semut kok!” hibur sang ibu. Dwija diberi
segelas air untuk berkumur. Ketika direguk,
ia gemetar melihat air di gelas merah oleh darah.
Kawan-kawan Dwija datang ramai-ramai. Mereka
mengambil gigi Dwija yang copot, masih terikat
benang yang dibuang ibu begitu saja di bawah
pohon belimbing di halaman.
“Mau kau apakan gigiku itu?” taya
Dwija heran.
“Ini gigimu yang bawah ya?” Dwija mengangguk. “Harus dibuang
ke atas atap, biar gigi penggantinya nanti tumbuh
bagus.”
Anak itu melempar gigi yang masih terikat benang ke atas.
Mereka bersorak ketika terdengar bunyi “tap”
di atas atap. Gigi itu diam di sana. Kawan-kawan
memeluk Dwija. “Nah gigimu pasti tumbuh bagus
nanti. Kalau gigi yang di atas dicabut, harus
dibuang ke tanah, jangan dilempar ke atas,”
jelas rekan Dwija.
“Kok
begitu?”
“Nak mule keto. Biar gigimu nanti tumbuh rapi, tidak kacau
terbalik-balik seperti gigi tapel bondres,”
sahut anak tertua di kelompok itu.