Kasihan Si Kerti, ia menjadi bulan-bulanan gosip. Tubuh mahasiswi
semester tiga fakultas ekonomi itu semakin ceking.
Dulu ia sintal, sekarang layu seperti ranting
kering. Dulu ia selincah burung pipit, sekarang
ia suka meyendiri, termenung lesu. Kerti tak
menyangka kalau menjadi bulan-bulanan gunjingan
kawan-kawan dekatnya.
Ia memang akrab dengan hampir semua
kawan cowok. Ia senang saja kalau ditraktir
makan, diajak nonton, jalan ke pantai, atau
mendaki gunung. Dan gosip pun segera bertebaran:
Kerti perempuan murahan, suka gonta-ganti cowok.
“Perhatikan saja giginya, kan coak?” komentar
kawan-kawannya, tak peduli laki atau prempuan.
Memang, ada celah
memanjang di antara dua gigi seri bagian atas
di rahang Kerti. Ketika kanak-kanak, gigi susunya
rapi, coak mulai tampak ketika ia berangkat
remaja, sewaktu di SMP, dan semakin jelas saat
dia di SMA, lalu menjadi bahan gunjingan begitu
ia duduk di bangku kuliah.
Di Bali, wanita yang giginya coak suka dituding
tak setia. Ia dicap suka menyeleweng. Jika sudah
menikah, ia biasanya dituduh suka berselingkuh,
gemar mencuri kesempatan kalau pasangannya lagi
lengah. Ia sering digunjingkan tukang rebut
suami o-rang, doyan mengganggu rumah tangga
orang lain. Apalagi jika janda giginya coak,
nah, ia akan menjadi bahan gosip paling seru.
Laki-laki pun dengan enteng menggodanya, menawarkan
janji-janji, meng-ajaknya kencan. Wanita yang
giginya coak biasanya digolongkan sebagai perempuan
murahan. Karena itu cewek gigi coak acap dinilai
punya gairah seksual berlebih, di atas rata-rata.
Ia akan diuber laki-laki, diam-diam, atau terang-terangan.
Maka, sungguh kasihan
Kerti. Tabiatnya yang suka bergaul tanpa pilih-pilih
orang itu dituding miring. “Meski aku senang
jalan-jalan dengan banyak cowok, berganti-ganti,
pang gondong (sumpah), aku belum pernah melakukan
yang begituan, yang dilarang agama,” isaknya
mengadu pada kawan dekatnya. Ia mengaku berniat
mengisi masa muda semeriah mungkin, karena itu
ia dekat de-ngan banyak teman pria, sebelum
akhirnya menyerah dalam pelukan laki-laki yang
akan memperistrinya.
Tapi ia telanjur dikaruniai
gigi coak. Kawan-kawan dekat meng-anjurkan agar
ia menservis gigi ke dokter saja. Tapi ia bimbang.
“Gigi coak begini karunia Hyang Widhi,” ujarnya.
“Aku paling tak suka menolak takdir.”
Mungkin pada akhirnya ia menyerah, pergi ke dokter
gigi, karena tak ingin terus menerus jadi sasaran
gosip, yang bisa membuat badannya kering kerontang
digerogoti sedih.
Sungguh kasihan Kerti, gadis lincah
manis bergigi coak.