|
Pagi, seperti biasa, sebelum berangkat sekolah, Made Olas
menyisir rambut di depan cermin. Ketika bersiul, ia merasakan
sesuatu yang aneh bergetar di bawah rahang kanan. Ada rasa
nyeri sedikit. Ia mencoba menggelembungkan mulutnya, wah,
kok pipi kanan lebih besar. Kedua pipi tak lagi simetris.
“Ah, ini cuma perasaanku saja,” kata hatinya menghibur. “Paling
besok hilang.”
Tapi keesokan hari ia justru mulai merasa sakit di pipi, tak
lagi cuma nyeri. Ketika berkaca, ia kaget, pipi kanan semakin
kembung, dan rahang kian membengkak. Rasanya sakit. Wajahnya
bengkak seperti tampang kodok. Kelihatannya lucu, tapi sakit.
Made Olas segera melapor ke ayahnya.
“Wah, kamu ini gendongan. Setiap orang pasti mengalami dalam
hidupnya.”
“Apa bisa hari ini sembuh, Pak?”
“Tak mungkin kalau tidak diobati.”
“Tapi sembuh kan kalau diobati hari ini?”
Ayah menggeleng. “Perlu waktu, dan obatnya pun khusus.”
“Tapi hari ini pasti sembuh kan, Pak? Saya malu pipi bengkak
begini. Kawan-kawan mengejek saya sebagai manusia godogan,
kayak kodok raksasa.”
Ayah meminta Ibu membuat sesajen. “Untuk apa? Hari ini tak
ada rahinan,” tanya Ibu. “Siapkan sajalah!” pinta Ayah. “Nanti
kujelaskan.”
Sore hari mereka mengajak Made Olas ke bale banjar. “Lho,
kok ke banjar, mestinya kan ke dokter?”
“Diam sajalah kamu,” ujar Ibu ketika tiba di bale banjar.
Ayah membawa sasaji itu dan satu periuk air naik ke bale kulkul.
Kentongan itu dibasuh ayah berkali-kali setelah sesaji dihaturkan,
disertai doa-doa. Olas dan Ibu menunggu di bawah. Pandangan
mereka terus mendongak ke atas, memperhatikan Ayah berkali-kali
menampung air basuhan kulkul itu ke periuk lain. Ke air basuhan
itu Ayah menaburkan kembang-kembang yang diambilnya dari sesaji.
Di rumah air wangsuh kulkul itu diusap-usapkan ke gendongan
Made Olas, berkali-kali. “Ini obat mujarab, biar gendonganmu
cepat sembuh,” kata Ayah.
Malam-malam, Made Olas bangun ketika Ayah dan Ibu tidur lelap.
Air wangsuh kulkul itu ia ambil segelas, diteguknya langsung.
Rasanyua aneh, rasa kayu bercampur asam. “Aku minum sajalah,
biar gendonganku cepat engkes,” kata hatinya. “Malu aku kalau
terlalu lama diejek sebagai kodok raksasa karena pipiku tembem.”
Tapi keesokan pagi Olas masih melihat pipi kanannya kembung.
Ia protes pada Ayah. “Ya sabar dong! Mana ada sakit bisa sembuh
secepat kilat.” Tiga hari kemudian baru gendongan Olas sembuh.
“Kalau tidak wangsuh kulkul itu mujarab, mungkin sebulan aku
jadi godogan raksasa,” katanya mempromosikan kehebatan wangsuh
kulkul sebagai obat gendongan kepada kawan-kawannya di sekolah.
|