Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
 

Tuesday, 16-Jul-2002

Pasang Iklan Peluang Emas
~ Obat Geriet-Geriet  ~
MENU OGLEX
Who am I
  Klik disini
   
Ketawa Ngakak
Cerita Lucu
  SMS Lucu
Kartun Biasa
Kartun Dewasa
  Teka - Teki
   
About "Love"
  Cerita Cinta
  Puisi Cinta
  Kisah Cinta
   
Oglex Special
  Ring Tone
  Screen Saver
  Midi
Desktop
 
 
Kritik dan Saran

Tidur ngorok pasti tak pernah jadi idaman siapa pun. Bunyi berderak-derak di mulut jelas mengganggu tidur orang di sebelah. Tapi tak gampang untuk tidur tanpa ngorok. Buktinya, banyak dokter spesialis ngorok yang rajin dikunjungi orang-orang terpandang dan berduit, minta bantuan dan pengobatan, agar bebas dari ngorok.
Jadi, bersyukurlah mereka yang bisa tidur dengan tenang, tak ngorok. “Aku kalau tidur memang tak ngorok, tapi tetap saja ribut,” aku Ruma kepada kawannya. “Kalau aku lagi asyik tidur pulas, kata orang gerahamku bergerak-gerak, gigiku beradu berderit-derit, geriet-geriet. Tak tahu kenapa.”
Pastika, si kawan, tertawa. “Aku tahu mengapa baru sekarang kau masalahkan kekurangamu itu. Kamu bakalan kawin bulan depan kan? Malu dong setelah capek di malam pertama,kamu tidur geriet-geriet.”
Ruma cuma diam. “Ngorok memang mustahil diobati, tapi kalau geriet-geriet tidak,” ujar Pastika mantap. “Apa dong obatnya? Jangan bikin aku malu di malam pertama.”
“Kamu tahu kan yang namanya ayam panggang?”
“Jadi obatnya ayam panggang? Wah, sekarang aku bisa beli ke pasar swalayan. Ayo, kalau begitu!”
“Sabar, bukan ayam panggang obatnya, tapi pemanggangannya itu.”
“Hah? Harus aku apakan pemanggangan itu?”
“Kamu harus menggigitnya tiga kali sehari, masing-masing lima menit, tak boleh lepas, selama seminggu.”
“Aku harus menggigit pemanggangan dari besi? Ah, yang benar aja. Masak aku harus menggigit oven? Berat, itu pekerjaan berat!”
“Bukan pemanggangan besi, tapi pemanggangan dari bambu.Kalau ibu memanggang ayam ketika aku otonan, biasanya pakai bambu atau pelepah kelapa. Mana aku punya oven.”
Karena Ruma tak sabar menunggu ada yang memanggang ayam dengan bambu atau pelepah kelapa, ia pun memanggang ayam sendiri. Ayam panggang renyah kecokelatan itu ia serahkan saja pada Pastika. “Aku tak butuh ayam panggang, yang kubutuhkan pemanggangan kehitaman ini,” ujar Ruma yang mulai hari itu berniat tiga kali sehari menggigitnya.
“Hasilnya, apakah kamu masih geriet-geriet atau tidak, silakan tanya isterimu nanti, setelah kalian melewatkan malam pertama,” ujar Pastika sambil mengunyah ayam panggang. Mulutnya penuh daging unggas kampung yang gurih itu. Ruma cuma manggut-manggut sambil menggigit pemanggangan. Air liurnya meleleh.
“Kalau belum lima menit jangan dilepas ya?!” pinta Pastika.



Previous

 

 

 

 

 
© Cophyright Oglex Post 2002
Denpasar - Bali