|
Tidur ngorok pasti tak pernah jadi idaman siapa pun. Bunyi
berderak-derak di mulut jelas mengganggu tidur orang di sebelah.
Tapi tak gampang untuk tidur tanpa ngorok. Buktinya, banyak
dokter spesialis ngorok yang rajin dikunjungi orang-orang
terpandang dan berduit, minta bantuan dan pengobatan, agar
bebas dari ngorok.
Jadi, bersyukurlah mereka yang bisa tidur dengan tenang, tak
ngorok. “Aku kalau tidur memang tak ngorok, tapi tetap saja
ribut,” aku Ruma kepada kawannya. “Kalau aku lagi asyik tidur
pulas, kata orang gerahamku bergerak-gerak, gigiku beradu
berderit-derit, geriet-geriet. Tak tahu kenapa.”
Pastika, si kawan, tertawa. “Aku tahu mengapa baru sekarang
kau masalahkan kekurangamu itu. Kamu bakalan kawin bulan depan
kan? Malu dong setelah capek di malam pertama,kamu tidur geriet-geriet.”
Ruma cuma diam. “Ngorok memang mustahil diobati, tapi kalau
geriet-geriet tidak,” ujar Pastika mantap. “Apa dong obatnya?
Jangan bikin aku malu di malam pertama.”
“Kamu tahu kan yang namanya ayam panggang?”
“Jadi obatnya ayam panggang? Wah, sekarang aku bisa beli ke
pasar swalayan. Ayo, kalau begitu!”
“Sabar, bukan ayam panggang obatnya, tapi pemanggangannya
itu.”
“Hah? Harus aku apakan pemanggangan itu?”
“Kamu harus menggigitnya tiga kali sehari, masing-masing lima
menit, tak boleh lepas, selama seminggu.”
“Aku harus menggigit pemanggangan dari besi? Ah, yang benar
aja. Masak aku harus menggigit oven? Berat, itu pekerjaan
berat!”
“Bukan pemanggangan besi, tapi pemanggangan dari bambu.Kalau
ibu memanggang ayam ketika aku otonan, biasanya pakai bambu
atau pelepah kelapa. Mana aku punya oven.”
Karena Ruma tak sabar menunggu ada yang memanggang ayam dengan
bambu atau pelepah kelapa, ia pun memanggang ayam sendiri.
Ayam panggang renyah kecokelatan itu ia serahkan saja pada
Pastika. “Aku tak butuh ayam panggang, yang kubutuhkan pemanggangan
kehitaman ini,” ujar Ruma yang mulai hari itu berniat tiga
kali sehari menggigitnya.
“Hasilnya, apakah kamu masih geriet-geriet atau tidak, silakan
tanya isterimu nanti, setelah kalian melewatkan malam pertama,”
ujar Pastika sambil mengunyah ayam panggang. Mulutnya penuh
daging unggas kampung yang gurih itu. Ruma cuma manggut-manggut
sambil menggigit pemanggangan. Air liurnya meleleh.
“Kalau belum lima menit jangan dilepas ya?!” pinta Pastika.

|