Pagi ini Ketug tak sekolah. Turun
dari tempat tidur pun sebenarnya ia sangat malas. Diseret-seretnya
kaki dengan paksa, dengan mata setengah ngantuk. Semalam ia
sebentar saja memicingkan mata. Bisul di pangkal pahanya berdenyut-denyut.
Luar biasa sakit, seperti dirajam jarum. Semalaman Ketug ngiah-ngiuh
terus. Berkali-kali ia gosok bisul itu dengan garam, ditempel
kerikan batang pisang, masih juga kebot-kebot. Sekeliling bisul
mincid itu merah bengkak. Entah sudah berapa ribu kali Ketug
mengeluh aduh... aduh....!
“Meme bilang apa, kamu ini dikutuk Batara. Berkal-kali Meme
larang, jangan duduk di atas bantal, nanti bisul, kamu tak percya.
Sekarang rasakan akibatnya,” sergah Ibu.
Wah, bisul Ketug jadi kian berdenyut-denyut. Ia meringis-ringis
menahan sakit. Jalannya pincang ke kamar mandi, tertatih-tatih
melangkah satu-satu sambil meraba dinding. Untung ayah Ketug
seorang penyabar. “Cuci muka saja, tak usah mandi,” saran Ayah.
“Nanti Ayah beri kamu obat mujarab, biar bisulmu cepat meletus.”
Ketug terhibur. “Kalau begitu beri sekarang saja obatnya,”
pinta Ketug.
“Ayo ikut Ayah!” Mereka ke luar rumah, tak bisa buru-buru,
karena langkah Ketug terseret-seret. Kadang ia berhenti menahan
sakit.
Ayah mengeluarkan uang Rp 5.000 dari dompetnya. “Usapkan uang
ini di bisulmu,” pinta Ayah.
Ketut bingung. “Ayo, usapkan!” perintah Ayah lagi. Ketut melorotkan
celananya, lalu mengusap-usap bisulnya dengan lima ribuan
itu. Ayah mengambil uang itu, menoleh kiri kanan, mengawasi
kalau-kalau ada orang lewat. Sepi, hari masih pagi. Uang itu
digeletakkannya di tengah jalan.
“Ayo, kita pulang sekarang!” ajak Ayah.
“Lho, katanya mau cari obat bisul.”
“Ya itu tadi obat bisulmu. Uang itu obatnya.”
Ketug semakin bingung. “Begini,” jelas Ayah. “Kita tadi membeli
bisulmu dengan menggesek-gesekkan uang di pantatmu. Nanti
kalau ada yang memungut uang itu, bisulmu akan pecah, dan
bisul akan pindah ke pantat si pemungut uang. Ngerti?”
Ketug sebenarnya mengerti, tapi ia tak terlalu percaya. “Tapi
mengapa mesti dengan lima ribuan. Seribu kan cukup?”
Ayah terkekeh. “Harga bisulmu itu mahal, Tug! Kalau lima ribuan,
kan cepat ada yang ngambil. Bisulmu akan cepat sembuh. Syukur
kalau dua orang rebutan mengambilnya, dua orang sekaligus
akan bisul.”
Dua hari kemudian bisul Ketug pecah, nanah campur darah merembes
dari pantatnya. Ia bergegas ke jalan, ke tempat Ayah membuang
uang. Wah, benar, lima ribuan itu tak lagi di sana. Pasti
seseorang memungutnya. Pantas bisul Ketug meledak, pindah
ke si pemungut uang. Siapa gerangan ya orang itu? Yang senang
dapat uang, tapi sial dapat bisul.

|