Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
 

Tuesday, 16-Jul-2002

Pasang Iklan Peluang Emas
~ Uang Gesek, Obat Bisul  ~
MENU OGLEX
Who am I
  Klik disini
   
Ketawa Ngakak
Cerita Lucu
  SMS Lucu
Kartun Biasa
Kartun Dewasa
  Teka - Teki
   
About "Love"
  Cerita Cinta
  Puisi Cinta
  Kisah Cinta
   
Oglex Special
  Ring Tone
  Screen Saver
  Midi
Desktop
 
 
Kritik dan Saran
Pagi ini Ketug tak sekolah. Turun dari tempat tidur pun sebenarnya ia sangat malas. Diseret-seretnya kaki dengan paksa, dengan mata setengah ngantuk. Semalam ia sebentar saja memicingkan mata. Bisul di pangkal pahanya berdenyut-denyut. Luar biasa sakit, seperti dirajam jarum. Semalaman Ketug ngiah-ngiuh terus. Berkali-kali ia gosok bisul itu dengan garam, ditempel kerikan batang pisang, masih juga kebot-kebot. Sekeliling bisul mincid itu merah bengkak. Entah sudah berapa ribu kali Ketug mengeluh aduh... aduh....!
“Meme bilang apa, kamu ini dikutuk Batara. Berkal-kali Meme larang, jangan duduk di atas bantal, nanti bisul, kamu tak percya. Sekarang rasakan akibatnya,” sergah Ibu.
Wah, bisul Ketug jadi kian berdenyut-denyut. Ia meringis-ringis menahan sakit. Jalannya pincang ke kamar mandi, tertatih-tatih melangkah satu-satu sambil meraba dinding. Untung ayah Ketug seorang penyabar. “Cuci muka saja, tak usah mandi,” saran Ayah. “Nanti Ayah beri kamu obat mujarab, biar bisulmu cepat meletus.”

Ketug terhibur. “Kalau begitu beri sekarang saja obatnya,” pinta Ketug.
“Ayo ikut Ayah!” Mereka ke luar rumah, tak bisa buru-buru, karena langkah Ketug terseret-seret. Kadang ia berhenti menahan sakit.
Ayah mengeluarkan uang Rp 5.000 dari dompetnya. “Usapkan uang ini di bisulmu,” pinta Ayah.
Ketut bingung. “Ayo, usapkan!” perintah Ayah lagi. Ketut melorotkan celananya, lalu mengusap-usap bisulnya dengan lima ribuan itu. Ayah mengambil uang itu, menoleh kiri kanan, mengawasi kalau-kalau ada orang lewat. Sepi, hari masih pagi. Uang itu digeletakkannya di tengah jalan.
“Ayo, kita pulang sekarang!” ajak Ayah.
“Lho, katanya mau cari obat bisul.”
“Ya itu tadi obat bisulmu. Uang itu obatnya.”
Ketug semakin bingung. “Begini,” jelas Ayah. “Kita tadi membeli bisulmu dengan menggesek-gesekkan uang di pantatmu. Nanti kalau ada yang memungut uang itu, bisulmu akan pecah, dan bisul akan pindah ke pantat si pemungut uang. Ngerti?”
Ketug sebenarnya mengerti, tapi ia tak terlalu percaya. “Tapi mengapa mesti dengan lima ribuan. Seribu kan cukup?”
Ayah terkekeh. “Harga bisulmu itu mahal, Tug! Kalau lima ribuan, kan cepat ada yang ngambil. Bisulmu akan cepat sembuh. Syukur kalau dua orang rebutan mengambilnya, dua orang sekaligus akan bisul.”
Dua hari kemudian bisul Ketug pecah, nanah campur darah merembes dari pantatnya. Ia bergegas ke jalan, ke tempat Ayah membuang uang. Wah, benar, lima ribuan itu tak lagi di sana. Pasti seseorang memungutnya. Pantas bisul Ketug meledak, pindah ke si pemungut uang. Siapa gerangan ya orang itu? Yang senang dapat uang, tapi sial dapat bisul.

Previous

 

 

 

 

 
© Cophyright Oglex Post 2002
Denpasar - Bali